
PKM UMNAW KENDALI HIPERTESNI, KKKB UMNAW, Desa Pulau Banyak, Langkat – Sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, apt. Sri Wahyuni, M.Farm melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemanfaatan Daun Kelor (Moringa oleifera) untuk Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Hipertensi” pada Kamis, 29 Januari 2026 di Desa Pulau Banyak, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan masyarakat serta mendorong pemanfaatan potensi lokal sebagai bagian dari strategi pencegahan penyakit tidak menular.
Hipertensi masih menjadi permasalahan kesehatan global yang signifikan. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) dan International Society of Hypertension (ISH), satu dari lima orang dewasa di dunia mengalami hipertensi, dan kondisi ini berkontribusi besar terhadap angka kematian akibat komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, serta gagal ginjal. Peningkatan prevalensi hipertensi di Indonesia, termasuk di Sumatera Utara, menunjukkan pentingnya pendekatan promotif dan preventif berbasis komunitas.
Desa Pulau Banyak dengan jumlah penduduk 3.197 jiwa memiliki karakteristik masyarakat pesisir yang sebagian besar bekerja di sektor pertanian dan perikanan. Potensi sumber daya alam yang tersedia, termasuk tanaman kelor yang mudah tumbuh di lingkungan sekitar, menjadi peluang strategis dalam mendukung kemandirian kesehatan masyarakat. Namun demikian, hasil survei awal menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat tentang kegunaan daun kelor dalam pencegahan dan penanganan hipertensi masih terbatas. Pengetahuan tentang daun kelor juga masih sebatas sebagai sayuran konsumsi sehari-hari.
Melalui penyuluhan interaktif, masyarakat diberikan pemahaman mengenai faktor risiko hipertensi, komplikasi yang dapat terjadi, serta pendekatan non-farmakologis khususnya daun kelor dalam pengendalian tekanan darah. Kegiatan berlangsung dengan partisipasi aktif masyarakat yang menunjukkan antusiasme tinggi selama penyuluhan berlangsung.
Dalam pemaparannya, apt. Sri Wahyuni, M.Farm menjelaskan bahwa daun kelor memiliki kandungan senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung pengendalian tekanan darah. “Daun kelor bukan sekadar sayuran biasa. Secara ilmiah, kandungan flavonoid, polifenol, dan antioksidannya memiliki potensi dalam membantu regulasi tekanan darah melalui mekanisme vasodilatasi dan penurunan stres oksidatif pada pembuluh darah. Namun, pemanfaatannya tetap bersifat komplementer dan tidak menggantikan terapi medis,” jelasnya. “Jadi meskipun kita mengkosumsi sayuran daun kelor, obat antihipertensi yang sudah diresepkan harus tetap diminum sesuai aturan. Tercapai tidaknya tekanan darah yang ditargetkan, maka perlu dilakukan pengukuran tekanan darah secara berkala dan teratur,” ujarnya melanjutkan.
Beliau juga menegaskan pentingnya pendekatan edukatif dalam membangun perubahan perilaku kesehatan. “Edukasi yang efektif bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi membangun pemahaman. Ketika masyarakat memahami risiko hipertensi dan mengetahui bahwa potensi lokal seperti kelor dapat dimanfaatkan secara tepat, maka kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat akan tumbuh dari dalam diri mereka sendiri,” tambahnya.
Pelaksanaan pengabdian ini menunjukkan bahwa integrasi antara ilmu farmasi, penelitian ilmiah, dan pemberdayaan masyarakat dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas kesehatan. Program ini diharapkan menjadi model intervensi berbasis potensi lokal yang dapat direplikasi di wilayah lain sebagai bagian dari upaya pengendalian penyakit tidak menular secara berkelanjutan
