Situs Resmi Koperasi UMN Al-Washliyah

Remaja Desa Pulau Banyak Diberdayakan Menjadi Konselor Sebaya Berbasis QR Code

PKM UMNAW KONSELOR SEBAYA, KKKB UMNAW, LANGKAT – Sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan kesehatan mental remaja di era digital, enam dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Pemberdayaan Remaja Desa Pulau Banyak Kabupaten Langkat melalui Pelatihan Konseling Teman Sebaya Berbasis QR Code Storytelling.” Program ini berlangsung di Desa Pulau Banyak, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada Desember 2025. Tujuan kegiatan ini adalah membentuk generasi muda yang peduli terhadap sesama melalui penguatan keterampilan konseling teman sebaya dengan dukungan teknologi digital.

Berlangsungnya kegiatan ini merupakan bentuk koordinasi dari Tim PKM yang diketuai oleh Ika Sandra Dewi, S.Pd., M.Pd., dengan anggota Nurlaili, S.Pd.I., M.Hum., Nurul Azmi Saragih, S.Pd., M.Psi., Ahmad Landong, S.Pd., M.Pd., Muhammad Noer Fadhlan, S.Pd., M.Pd., dan Helsa Nasution, S.Pd., M.Pd. yang mana seluruh dosen memiliki kepakaran yang berbeda namun sama dalam bidang pendidikan sebagai bentuk kolaborasi dan saling berbagi ilmu pengetahuan dalam kegiatan ini. Adapun bidang ilmu yang dimiliki oleh tim PKM diantaranya;  psikologi pendidikan, bahasa, serta pengembangan media pembelajaran.  Meningkatnya persoalan kesehatan mental di kalangan remaja menjadi perhatian serius karena berpotensi memengaruhi perkembangan psikologis, sosial, dan akademik mereka. Namun demikian, kemampuan remaja untuk berperan sebagai pendengar pertama dan memberikan dukungan awal kepada teman sebaya masih relatif terbatas, sehingga diperlukan program pemberdayaan yang sistematis dan berkelanjutan. Di sisi lain, berbagai penelitian menunjukkan bahwa ketika menghadapi tekanan emosional, konflik keluarga, perundungan, kecemasan, maupun masalah akademik, remaja lebih sering memilih bercerita kepada teman dibandingkan kepada orang tua, guru, ataupun guru. Kegiatan ini berjalan dengan lancar atas kerjasama tim yang memiliki peran masing-masing dalam tugasnya.

Menurut Ketua Tim PKM, Ika Sandra Dewi, S.Pd., M.Pd, kondisi tersebut menjadi alasan penting mengapa remaja perlu dibekali kemampuan menjadi peer counselor atau konselor sebaya. “Teman sebaya merupakan pihak yang paling dekat dengan kehidupan remaja. Oleh karena itu, mereka perlu memiliki keterampilan komunikasi yang tepat agar mampu menjadi pendengar pertama yang memberikan dukungan psikologis awal sebelum mengarahkan temannya kepada layanan profesional apabila diperlukan,” ujarnya.

 

Membekali Remaja dengan Keterampilan Konseling Dasar

Selama pelaksanaan program, peserta yang berasal dari Karang Taruna Desa Pulau Banyak memperoleh pelatihan mengenai konsep dasar kesehatan mental remaja serta teknik-teknik konseling sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Materi yang diberikan mencakup keterampilan active listening (mendengarkan secara aktif), teknik mengajukan pertanyaan terbuka, membangun empati, menjaga kerahasiaan informasi, mengelola emosi ketika mendampingi teman, hingga mengenali batas kemampuan seorang konselor sebaya. Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai perbedaan kasus yang masih dapat diberikan dukungan awal oleh teman sebaya dengan kondisi yang harus segera dirujuk kepada psikolog, konselor profesional, ataupun tenaga kesehatan. Pelatihan dilaksanakan secara partisipatif melalui penyampaian materi, diskusi kelompok, simulasi kasus nyata, role play konseling, praktik komunikasi empatik, pendampingan, hingga evaluasi kemampuan peserta.

 

Inovasi Melalui QR Code Storytelling

Keunikan program ini terletak pada penggunaan QR Code Storytelling, yaitu media pembelajaran digital yang menggabungkan cerita, video edukasi, dan teknologi Quick Response (QR) Code sebagai sarana belajar mandiri. Tim PKM mengembangkan berbagai skenario permasalahan yang sering dialami remaja, seperti kecemasan, konflik keluarga, tekanan pergaulan, putus sekolah, hingga trauma pasca bencana. Setiap cerita kemudian dikemas menjadi video pembelajaran serta materi digital yang dihubungkan dengan QR Code.

Kode QR tersebut dicetak pada poster dan ditempatkan di sejumlah lokasi strategis di desa sehingga mudah diakses oleh para remaja menggunakan telepon pintar. Melalui satu kali pemindaian, peserta dapat mempelajari contoh percakapan konseling, tahapan pendampingan teman sebaya, serta teknik komunikasi yang efektif sebelum memberikan bantuan kepada temannya. Pendekatan ini dinilai lebih menarik karena sesuai dengan karakteristik Generasi Z yang sangat akrab dengan teknologi digital dan lebih mudah menerima informasi melalui media visual serta multimedia interaktif.

 

Hasil Program Menunjukkan Dampak Positif

Evaluasi pelaksanaan kegiatan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sebanyak 92 persen peserta mengaku baru pertama kali mengenal konsep konseling teman sebaya sebelum mengikuti pelatihan. Setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, sekitar 86 persen peserta mampu mempraktikkan teknik konseling sederhana dengan benar berdasarkan hasil observasi tim pelaksana selama simulasi. Program ini juga berhasil mengembangkan 25 media QR Code Storytelling yang kemudian dimanfaatkan dalam 18 sesi konseling sebaya selama masa pendampingan. Berbagai topik yang dibahas meliputi kecemasan, konflik keluarga, masalah pergaulan, putus sekolah, hingga trauma pascabanjir yang pernah dialami masyarakat setempat. Dari sisi peningkatan kompetensi, skor rata-rata pemahaman peserta meningkat dari 54 menjadi 88, atau mengalami peningkatan sekitar 63 persen. Sementara itu, tingkat kepercayaan diri remaja dalam memberikan dukungan kepada teman meningkat signifikan, dari 40 persen menjadi 85 persen. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan teknologi digital mampu meningkatkan pengetahuan sekaligus kesiapan remaja dalam menjalankan peran sebagai konselor sebaya.

Kehadiran tim konselor sebaya diharapkan dapat membangun lingkungan sosial yang lebih aman, terbuka, dan saling peduli. Remaja tidak diarahkan untuk menggantikan peran psikolog atau konselor profesional, melainkan menjadi pendengar pertama yang mampu memberikan dukungan awal serta mengarahkan temannya untuk memperoleh pertolongan yang tepat. Program konseling teman sebaya berbasis QR Code dinilai memiliki keunggulan karena sederhana, berbiaya rendah, mudah diakses, dekat dengan kehidupan digital remaja, dan dapat dikembangkan secara mandiri. Model tersebut juga berpotensi diterapkan di desa lain sebagai upaya membangun sistem pendampingan masalah remaja yang terstruktur dan berkelanjutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *