
PKM UMNAW PENDEKATAN PENDIDIKAN, KKKB UMNAW – Upaya memperkuat kehidupan sosial yang rukun dan harmonis di tengah keberagaman terus digalakkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Hal ini tampak dalam kegiatan bertajuk “PKM Nilai-Nilai Toleransi Melalui Pendekatan Pendidikan Islam dalam Menciptakan Harmonisasi bagi Masyarakat Desa Amplas” yang dilaksanakan pada Rabu (15/1/2026) di Aula Balai Desa Amplas.
Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Haidir, S.Pd.I., M.Pd bersama tim pengabdian yang terdiri dari para akademisi dan mahasiswa yaitu Dr. Muhammad Hizbullah, MA, Julianto Hutasuhut, SE.,MM, Abdul Havis Purba, dan Mujahid Akbar. Kegiatan ini dilakukan di Aula Desa Amplas, yang diikuti oleh tokoh masyarakat, pemuda, ibu-ibuk PKK, serta warga setempat yang antusias menyambut program ini.
Dalam sambutannya, Dr. Haidir, S.Pd.I., M. Pd menegaskan bahwa nilai-nilai toleransi merupakan bagian integral dari ajaran Islam yang harus dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. “Islam mengajarkan sikap tasamuh (toleransi), saling menghargai, dan menjaga kerukunan antar sesama, baik dalam lingkup internal umat maupun antar umat beragama,” ujarnya.
Kegiatan PKM ini dikemas dalam bentuk ceramah interaktif, diskusi kelompok, serta simulasi sosial yang bertujuan untuk memberikan pemahaman praktis kepada masyarakat tentang pentingnya toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Materi yang disampaikan meliputi konsep toleransi dalam Islam, strategi membangun komunikasi sosial yang inklusif, serta upaya pencegahan konflik berbasis perbedaan.
Salah satu anggota tim PKM menjelaskan bahwa pendekatan pendidikan Islam yang digunakan tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga aplikatif. “Kami mencoba mengaitkan nilai-nilai keislaman dengan realitas sosial yang dihadapi masyarakat, sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami dan diterapkan,” jelasnya.
Respon positif datang dari masyarakat Desa Amplas. Salah seorang tokoh masyarakat menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan semacam ini sangat dibutuhkan untuk memperkuat persatuan di tengah masyarakat yang beragam latar belakang.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog yang konstruktif antara masyarakat dan akademisi dalam membahas berbagai persoalan sosial yang berpotensi memicu konflik. Dengan adanya komunikasi yang terbuka, diharapkan dapat tercipta kesadaran kolektif untuk menjaga keharmonisan sosial.
Melalui kegiatan PKM ini, Dr. Haidir dan tim berharap nilai-nilai toleransi tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar terinternalisasi dalam sikap dan perilaku masyarakat. Dengan demikian, Desa Amplas dapat menjadi contoh masyarakat yang harmonis, damai, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dalam keberagaman.
Kegiatan ini diakhiri dengan penandatanganan komitmen bersama oleh peserta sebagai bentuk keseriusan dalam menjaga dan mengamalkan nilai-nilai toleransi di lingkungan masing-masing.
